teknologi hasil peternakan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Daging sapi merupakan salah satu bahan
pangan asal ternak yang mengandung nutrisi berupa air, protein, lemak, mineral, dan sedikit karbohidrat
(glikogen dan glukosa). Akibat adanya nutrisi yang terkandung dalam daging sapi,
maka daging sapi juga merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri,
sehingga mudah mengalami kerusakan. Pencemaran bakteri dalam daging sapi mulai
terjadi sejak penyembelihan di rumah Potong hewan (RPH).
Daging adalah otot hewan yang tersusun dari serat-serat yang sangat kecil,
masing-masing berupa sel memanjang yang disatukan oleh jaringan ikat, membentuk
berkas ikatan yang pada kebanyakan daging jelas kelihatan lemak pembuluh darah
dan urat syaraf. Bila potongan daging diamati secara teliti maka tampak dengan
jelas bahwa daging terdiri atas tenunan yang terdiri atas air, protein, tenunan
lemak dan potongan tulang.
Daging merupakan
hasil pemotongan ternak yang telah melalui proses rigormortis, dalam proses
rigormortis tersebut otot akan mengalami kehilangan glikogen dan mengakibatkan
otot menjadi kaku, setelah itu enzim-enzim proteolitik pada daging akan bekerja
dalam memperbaiki keempukan.
Daging mempunyai
struktur daging yang terdiri dari jaringan otot, jaringan ikat, pembuluh
darah dan jaringan syaraf. Penggolongan daging sapi/kerbau menurut kelasnya
adalah yaitu golongan (kelas) I, meliputi daging bagian has dalam
(fillet), tanjung (rump), has luar (sirloin), lemusir (cube roll), kelapa
(inside), penutup (top side), pendasar + gandik (silver side).
Golongan (kelas) II, meliputi daging bagian paha depan, sengkel (shank),
daging paha depan (chuck), daging iga (rib meat), daging punuk (Blade).
Golongan (kelas) III, meliputi daging lainnya yang tidak termasuk golongan I
dan II, yaitu samcan (flank), sandung lamur (brisket ).
Daging yang dapat dikonsumsi adalah daging dari ternak
yang sehat, saat penyembelihan dan pemasaran diawasi oleh petugas Rumah Potong
Hewan (RPH) serta terbebas dari pencemaran mikroba patogen. Saat ini permintaan
masyarakat terhadap daging juga disertai oleh adanya kecemasan masyarakat
terhadap kasus bahaya pangan, contohnya kasus antraks (penyakit ternak yang
disebabkan oleh mikroba patogen bakteri Bacillus antracis) pada
daging (domba, kambing, sapi) yang dapat menular kepada manusia dan menyebabkan
kematian.
Salah satu metode pengolahan /pengawetan
dagingsapi adalah dengan marinasi. Marinasi adalah adalah proses perendaman
daging di dalam bahan marinade, sebelum diolah lebih lanjut (Smith
danYoung,2007).Marinade adalah cairan berbumbu yangberfungsi sebagai bahan
perendam daging, biasanya digunakan untuk meningkatkan rendemen (yield) daging,
memperbaiki flavor, meningkatkan keempukan, meningkatkan kesan jus (juiceness),
meningkatkan daya ikat air,menurunkan susut masak, dan memperpanjang masa
simpan d ging (Alvarado dan Sams, 2003). Metode marinasi dapat dilakukan dengan
cara perendaman, injeksi, atau diguling-‐gulingkan (tumbling) (Alvarado danMcKee,
2007).
1.2
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah dapat
mengetahui prinsip dasar dan tujuan pengolahan daging, produk olahan, standar
kualitas daging olah dan prosedur pengolahan serta cara pengawetan daging.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Prinsip Dasar dan Tujuan Pengolahan
Daging
Daging memiliki peran cukup besar dalam konteks
ketahanan pangan nasional karena merupakan salah satu komoditas sumber protein
hewani yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan. Kesehatan daging merupakan
bagian yang penting bagi keamanan pangan dan selalu menjadi pokok permasalahan
yang mendapatkan perhatian khusus dalam penyediaan daging untuk konsumen.
Tujuan dari pengolahan yaitu untuk pengawetan daging
dan penambahan citarasa. Pengolahan daging ini dapat bersifat tradisional
maupun moderen. Pengolahan secara tradisional dapat dilakukan dengan
pengeringan, penggaraman maupun pengasapan. Sedangkan pengolahan secara
modern dapat dilakuakan dengan pasteurisasi, pengalengan atau produk
beku. Pengolahan daging ini disuaikan dengan daerah ataupun tradisi
masyarakatsetempat. Bahkan ada cara pengawetan daging yang hanya terdapat di
satudaerah saja. Pada praktikum ini akan diajarkan cara pengolahan daging
dengan membuat produk lidah asap.
Pengolahan ini menggunakan garam dan pengasapan yang lama
untuk menambah cita rasa. Daging adalah urat yangmelekat pada kerangka
kecuali urat dari bagian bibir, hidung dan telinga dari hewan yang sehat
sewaktu dipotong. Daging terdiri dari otot, jaringan penghubung dan
jaringan lemak.
Daging merupakan salah satu bahan pangan bergizi
tinggi disamping telur, susu dan ikan. Daging mengandung protein,
lemak, mineral, air serta vitamin dalam susunan yang berbeda tergantung
jenis makanan dan jenis hewan.Hewan yang
berbeda mempunyai komposisi daging yang berbeda pula. Komposisi
daging terdiri dari 75% air, 18% protein, 4% protein yang dapatlarut (termasuk
mineral) dan 3% lemak. Ternak rata-rata menghasilkan karkas (bagian badan
hewan) 55%, macam-macam hasil sampingan 9%, kulit 6% dan bahan lainnya
30%. Daging yang baik ditentukan oleh warna, bau, penampakan
dankekenyalan. Semakin daging tersebut lembab atau basah serta
lembek (tidak kenyal) menunjukkan kualitas daging yang kurang baik.
2.2
Standar Kualitas Produk
Daging Olah
Secara umum daging yang baik adalah
daging yang mempunyai warna cerah, tidak pucat dan mengkilat, tidak ada bau
asam, apalagi busuk, konsistensinya liat serta apabila dipegang tidak lekat di
tangan dan masih terasa kebasahan (Hadiwiyoto, 1983).
Evaluasi terhadap kualitas dan
kesehatan daging dapat dilakukan secara subjektif dan objektif. Penilaian
secara subjektif meliputi penilaian terhadap warna, bau, keempukan dan cita
rasa, sedangkan penilaian objektif dapat dilakukan dengan bantuan alat-alat
laboratoris atau dengan standar perbandingan penilaian objektif meliputi
penilaian terhadap pH, kepualaman dan komposisi kimia daging (Arka, 1994).
Daging sapi
tanpa lemak mengandung 60% dari nilai kecukupan harian untuk protein hanya
dalam 100 g. sumber vitamin B12 dan B6. Vitamin B12 hanya ditemukan dalm produk
hewani dan sangat penting untuk metabolisme sel, menjaga sistem saraf yang
sehat dan produksi sel darah merah dalam tubuh. Daging sapi tanpa lemak
mengandung zink (seng) 6 kali lebih tinggi daripada daging lainnya. Zink
membantu mencegah kerusakan pada dinding pembuluh darah yang berkontribusi
tehadap penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Sumber zat besi
(Fe) yang baik serta mengandung selenium dan fosfor.
Daging yang
dapat dikonsumsi adalah daging yang berasal dari hewan yang sehat.Saat
penyembelihan dan pemasaran berada dalam pengawasan petugas rumah potong hewan
serta terbebas dari pencemaran mikroorganisme. Secara fisik, kriteria, atau
ciri-ciri daging yang baik adalah :
a. bersih atau terang,
b. berwarna merah segar,
c. lapisan luar kering,
d. berasal dari rumah potong hewan,
e. ada cap pemeriksaan dari pemerintah setempat,
f. daging yang sudah ditiriskan tidak berdarah,
g. aroma bau tidak amis dan tidak bau asam,
h. daging masih elastis dan tidak kaku,
i. bila ditekan tidak banyak mengeluarkan cairan
Mutu merupakan gabungan atribut produk yang dinilai secara organoleptik dan
digunakan konsumen untuk memilih produk.Pada daging dan produk olahan daging,
mutu daging ditentukan oleh mutu komposisi gizi atau rasio antara daging
non-lemak dengan lemak dan palatabilitasnya yang mencakup penampakan, tekstur (juiciness dan
keempukan) dan flavor.Secara visual, mutu daging dinilai dari warna, marbling,
dan daya ikat air.
Kualitas daging dipengaruhi
oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun
setelah dipotong. Faktor penentu kualitas daging pada waktu hewan hidup adalah
cara pemeliharaan, yang meliputi : pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan,
dan perawatan kesehatan. Kualitas daging juga dipengaruhi oleh pengeluaran
darah pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi sesudah hewan dipotong.
a.
Kualitas daging
yang baik.
Kriteria yang
dipakai sebagai pedoman untuk menentukan kualitas daging yang layak konsumsi
adalah :
·
Keempukan daging
ditentukan oleh kandungan jaringan ikat. Semakin tua usia hewan susunan
jaringan ikat semakin banyak sehingga daging yang dihasilkan semakin liat. Jika
ditekan dengan jari daging yang sehat akan memiliki konsistensi kenyal.
·
Kandungan lemak (marbling)
adalah lemak yang terdapat diantara serabut otot (intramuscular). Lemak
berfungsi sebagai pembungkus otot dan mempertahankan keutuhan daging pada waktu
dipanaskan. Marbling berpengaruh terhadap citra rasa.
·
Warna
daging bervariasi tergantung dari jenis hewan secara genetik dan usia, misalkan
daging sapi potong lebih gelap daripada daging sapi perah, daging sapi muda
lebih pucat daripada daging sapi dewasa.
·
Rasa dan aroma
dipengaruhi oleh jenis pakan. Daging berkualitas baik mempunyai rasa gurih dan
aroma yang sedap.
·
Kelembaban
: Secara normal daging mempunyai permukaan yang relatif kering sehingga dapat
menahan pertumbuhan mikroorganisme dari luar. Dengan demikian mempengaruhi daya
simpan daging tersebut.
b.
Kualitas daging
yang tidak baik
Bau dan rasa tidak normal akan segera tercium sesudah hewandipotong. Hal
tersebut dapat disebabkan oleh adanya kelainan sebagai berikut :
·
Hewan sakit
terutama yang menderita radang bersifat akut pada organ dalam yang akan
menghasilkan daging berbau seperti mentega tengik.
·
Hewan
dalam pengobatan terutama dengan pengobatan antibiotik akan menghasilkan daging
yang berbau obat-obatan.
·
Warna daging tidak
normal tidak selalu membahayakan kesehatan, namun akan mengurangi selera
konsumen.
·
Konsistensi
daging tidak normal yang ditandai kekenyalan daging rendah (jika ditekan dengan
jari akan terasa lunak) dapat mengindikasikan daging tidak sehat, apabila
disertai dengan perubahan warna yang tidak normal maka daging tersebut tidak
layak dikonsumsi.
·
Daging busuk dapat
menganggu kesehatan konsumen karena menyebabkan gangguan saluran pencernaan.
Pembusukan dapat terjadi karena penanganan yang kurang baik pada waktu
pendinginan, sehingga kativitas bakteri pembusuk meningkat, atau karena terlalu
lama dibiarkan ditempat terbuka dalam waktu relatif lama pada suhu kamar,
sehingga terjadi proses pemecahan protein oleh enzim-enzim dalam daging yang
menghasilkan amonia dan asam sulfit.
2.3
Prosedur Pengolahan dan Pengawetan
Daging
Pengawetan daging bertujuan untuk memperpanjang masa
simpannya sampai sebelum dikonsumsi. Berdasarkan metode, pengawetan daging
dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu pengawetan secara fisik, biologi, dan
kimia. Pengawetan secara fisik meliputi proses pelayuan (penirisan darah selama
12-24 jam setelah ternak disembelih), pemanasan (proses pengolahan daging untuk
menekan/membunuh kuman seperti pasteurisasi, sterilisasi) dan pendinginan
(penyimpanan di suhu dingin refrigerator suhu 4-10°C,
freezer suhu <0°C), pengawetan secara biologi melibatkan proses
fermentasi menggunakan mikroba seperti pembuatan produk salami, sedangkan
pengawetan kimia merupakan pengawetan yang melibatkan bahan kimia. Pengawetan
secara kimia dibedakan menjadi pengawetan menggunakan bahan kimia dari bahan
aktif alamiah dan bahan kimia (sintetis). Pengawetan menggunakan bahan aktif
alamiah antara lain menggunakan rempah-rempah (bawang putih, kunyit, lengkuas,
jahe), metabolit sekunder bakteri (bakteriosin), dan lain-lain yang dilaporkan
memiliki daya antibakteri, antimikroba, dan bakterisidal. Pengawetan
menggunakan bahan kimia seperti garam dapur, sodium tripolyphosphate (STPP),
sodium nitrit, sodium laktat, sodium asetat, sendawa (kalium nitrat, kalsium
nitrat, natrium nitrat), gula pasir dan lain-lain dan lain-lain. Dengan jumlah
penggunaan yang tepat, pengawetan dengan bahan kimia sangat praktis karena
dapat menghambat berkembangbiaknya mikroba jamur, kapang/khamir dan bakteri
patogen.
a.
Pengawetan daging dengan pemanasan
Pasteurisasi, yaitu pemanasan menggunakan suhu di
bawah suhu didih untuk membunuh kuman/bakteri patogen namun sporanya masih
dapat hidup. Ada 3 cara pasteurisasi yaitu: (i) Pasteurisasi lama (Low
Temperature Long Time/LTLT). Pemanasan pada suhu yang tidak tinggi
(62o-65°C) dengan waktu yang relatif lama (1/2 -1 jam), (ii) Pasteurisasi
singkat (High Temperature Short Time/HTST). Pemanasan dilakukan pada
suhu tinggi (85o-95°C) dengan waktu yang relatif singkat (1-2 menit), dan
(iii)PasteurisasiUltra High Temperature (UHT). Pemanasan pada suhu
tinggi dan segera didinginkan pada suhu 10°C. b.
Sterilisasi adalah proses pengawetan yang dilakukan
dengan pemanasan sampai suhu di atas titik didih, sehingga bakteri dan sporanya
mati. Sterilisasi dilakukan dengan cara : (i) UHT yaitu pemanasan sampai suhu
137°-140°C selama 2-5 detik dan (ii) Produk dalam kemasan hermetis dipanaskan
pada suhu 110°-121°C selama 20-45 detik.
b.
Pengawetan daging dengan bahan kimia
a. Bahan Aktif alamiah
Bawang
putih dan bawang bombay, kandunganalisin berguna untuk antimikroba.
Kunyit, kandungan kurkumin (golongan fenol) didalamnya
memiliki sifat bakterisidal. Lengkuas, senyawa fenolik lengkuas bersifat
menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.Jahe, senyawa antioksidan didalamnya
dapat dimanfaatkan mengawetkan minyak dan lemak.Bakteriosin, merupakan produk
ekstraseluler yang diproduksi oleh bakteri asam laktat, sebagai protein yang
aktif secara biologi atau kompleks protein (agregat protein, protein
lipokarbohidrat, glikoprotein) yang disintesa secara ribosomal dan menunjukkan
aktivitas antibakteri. Bakteriosin sebagai biopreservatif pangan harus memenuhi
kriteria seperti pengawet atau bahan tambahan pangan lainnya antara lain aman
bagi konsumen, memiliki aktivitas bakterisidal terhadap kelompok bakteri gram
positif dalam sistem makanan, stabil, terdistribusi secara merata dalam sistem
makanan, dan ekonomis
Pengawetan
daging dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia pengawet yang termasuk
dalam bahan tambahan pangan (BTP) dalam produk olahan daging. Namun masyarakat
dewasa ini ketakutan bila mendengar istilah bahan pengawet atau bahan kimia
yang dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Bahan tambahan pangan adalah
bahan aditif yang mengandung senyawa kimia yang telah diizinkan penggunaannya
(Suryanto, 2009). Di Indonesia, penggunaan bahan tambahan tersebut diatur pada
Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/MENKES/PER/X/1999 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan
Makanan. Beberapa BTP yang diizinkan antara lain adalah: Garam NaCl (garam
dapur), berguna untuk menghambat pertumbuhan khamir/yeast dan jamur. Penggunaan
garam dapur berkisar antara 1,5-3%.Sodium tripolyphosphate (STPP), bertujuan
menurunkan jumlah bakteri sehingga produk olahan daging dapat tahan lama.
Perendaman karkas selama 6 jam dalam larutan disodium fosfat dengan konsentrasi
6,23% dapat meningkatkan masa simpan 1-2 hari. Penggunaan STPP pada produk
olahan daging tidak boleh lebih dari 0,5%.Gula pasir, dapat digunakan sebagai
pengawet dengan tingkat penggunaan minimal 3% atau disesuaikan dengan jenis
produk olahan daging. Sodium nitrit, digunakan dalam campuran curinguntuk
menghasilkan kestabilan pigmen daging olahan. Jumlah penggunaan tidak boleh
lebih dari 156 ppm, kadang-kadang dikombinasikan dengan askorbat 550 ppm untuk
mencegah pembentukan senyawa karsinogen nitrosamin.Sodium laktat, digunakan
untuk mengontrol pertumbuhan patogen. Maksimum penggunaan sodium laktat adalah
2,9%Sodium asetat, digunakan sebagai agen antimikroba dan flavouring dengan
jumlah penggunaan maksimum 0,25%.Sendawa (kalium nitrat, kalsium nitrat,
natrium nitrat), sebagai pengawet daging olahan digunakan dengan konsentrasi
0,1%.
c.
Pengawetan daging melalui pengolahan
Pengawetan
daging merupakan suatu cara menyimpan daging untuk jangka waktu yang cukup lama
agar kualitas maupun kebersihannya tetap terjaga. Tujuan pengawetan adalah
menjaga ketahanan terhadap serangan jamur, kapang/khamir, dan bakteri patogen,
agar daging tidak mudah rusak. Dalam rangka mempertahankan nilai gizi daging
dilakukan upaya pengolahan untuk tujuan pengawetan dan perluasan jangkauan
pemasaran. Beberapa cara pengolahan daging yang dapat dilakukan antara lain
dengan proses pengeringan (contoh dendeng), pengasapan (contoh daging asap),
pengasaman (contoh salami), pemanasan (contoh abon), kombinasi
perlakuan-perlakuan tersebut (contoh: sosis, bakso, nugget, kornet, dan
lain-lain). Dalam bentuk produk olahan maka daging dapat disimpan lebih lama
serta relatif tidak mengalami perubahan mutu dan citarasa spesifik daging.
Daging
diperoleh setelah otot berubah melalui proses penyembelihan atau ternak
dimatikan. Selama dan segera setelah penyembelihan ternak, otot mengalami
perubahan-perubahan yang mempengaruhi sifat-sifat dan kualitas daging. Daging
didefinisikan sebagai semua jaringan tubuh hewan dan produk hasil olahannya
yang sesuai untuk dikonsumsi. Daging harus tidak menimbulkan gangguan kesehatan
bagi yang mengkonsumsinya. Termasuk ke dalam definisi daging di atas adalah
organorgan seperti hati, ginjal, otak, paru-paru, jantung, limfa, pankreas dan
jaringan otot.
Daging
tersusun atas berbagai macam jaringan tubuh seperti jaringan adiposa, jaringan
ikat, jaringan saraf, jaringan epitel dan jaringan otot. Jaringan otot
merupakan komponen terbesar dari daging sehingga pembahasan mengenai daging
lebih banyak mempelajari sifat dari jaringan otot ini, khususnya otot
sekeletal.
2.4
Produk Olahan Daging
a.
Bakso
Bakso atau
baso adalah makanan berupa bola daging. Bakso umumnya dibuat daricampuran
daging sapidan tepung tetapi ada juga yang terbuat dari daging ayam atau ikan.
Untuk jenis baksodaging sapi, ayam, dan ikan sekarang banyak ditawarkan dalam
bentuk frozen yang dijual di minimarket, supermarket, swalayan dan mall. Dalam
penyajiannya bakso biasa dsajikan dengan kuah kaldu dan mi. Ada beberapa
pedagang yang dalam proses pembuatanya menggunakan boraks atau bleng untuk
membuat tepung lebih kenyal mirip daging, hal ini membuat bakso pernah dianggap
makanan yang kurang aman oleh BPOM.
Pembuatan bakso terdiri dari tahap pemotongan daging, penggilingan daging, penghalusan
daging giling sekaligus pencampuran dengan bahan pembantu dan bumbu,
pencampuran dengan tepung tapioka dan sagu aren, pembentukan bola-bola dan
perebusan.
Perebusan bakso dilakukan dalam dua tahap agar permukaan bakso yang
dihasilkan tidak keriput dan tidak pecah akibat perubahan suhu yang terlalu
cepat.Tahap pertama, bakso dipanaskan dalam panci berisi air hangat sekitar 60oC
sampai 80oC, sampai bakso mengeras dan terapung.Tahap kedua, bakso
direbus sampai matang dalam air mendidih.
b.
Sosis
Sosis adalah
makanan yang terbuat dari daging cincang, lemak hewan dan rempah serta
bahan-bahan lain. Sosis umumnya dibungkus dalam suatu pembungkus yang secara
tradisional menggunakan usus hewan, tapi sekarang kebanyakan menggunakan bahan
sintesis serta diawetkan dengan suatu cara, misalnya pengasapan. Pembuatan
sosis
merupakan
suatu teknik produksi dan pengawetan makanan yang telah dilakukan sejak lama.
Dibanyak Negara, sosis merupakan toping popular untuk pizza.
Komposisi nilai gizi pada sosis yang sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI 01-3820-1995), dengan ketentuan sebagai berikut :
a. memiliki kadar air
maksimal 67%
b. memiliki kandungan
abu maksimal 3%
c. memiliki kandungan
protein minimal 13%
d. memiliki kandungan
lemak maksimal 25%
e. memiliki kandungan
karbohidrat maksimal 8%
Namun dibalik
kelezatan sepotong sosis, perlu diwaspadai pula bahaya yang dapat ditimbulkan
bagi kesehatan. Pada beberapa jenis produk sosis mengandung kadar lemak dan
kolesterol serta sodium yang cukup tinggi yang berpotensi dapat menyebabkan
timbulnya penyakit jantung, stroke, maupun hipertensi apabila dikonsumsi secara
berlebihan.
c.
Dendeng
Dendeng
adalah daging yang dipotong tipis menjadi serpihan yang lemaknya dipangkas,
dibumbui dengan saus asam, asin atau manis dengan dikeringkan dengan api kecil
atau dijemur. Hasilnya adalah daging yang asin dan semi manis yang tidak perlu
disimpan di lemari es.
d.
Kornet
Daging
kornet atau cornet beef adalah daging sapi yang diawetkan dalam brine yang
kemudian dimasak dengan cara simmering. Biasanya
digunakan potongan daging yang seratnya memanjang seperti brisket. Nama cornet
beef berasal dari garam kasar yang digunakan. Corn artinya butiran, yaitu
butiran garam.
e.
Steak
Steak atau
bistik adalah sepotong daging besar biasanya daging sapi. Daging merah, dada
ayam dan ikan sering kali dijadikan steak. Kebanyakan steak dipotong tegak
lurus dengan fiber otot, menambah kelegitan daging. Steak biasanya dipanggang
meskipun dapat digoreng atau dibroil.
f.
Abon
Abon
merupakan makanan yang praktis dan siap saji. Abon dapat disajikan bersama
nasi, roti, atau sebagai pengisi kue kering. Abon bisa terbuat dari daging.
Umumnya daging sapi atau kerbau. Abon tergolong produk olahan daging yang awet.
Untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan, abon dikemas dalam kantong
plastik dan ditutup dengan rapat. Dengan cara demikian, abon dapat disimpan
pada suhu kamar selama beberapa bulan.
Pembuatan
abon terdiri dari perebusan daging, penumbukan daging, pembentukan serat daging
halus, penambahan bumbu, dan pengeringan. Perebusan dan penumbukan daging
bertujuan untuk memudahkan pembentukan serat-serat halus.
Sebagaimana
bahan aslinya yaitu daging, abon merupakan sumber protein. Abon terbuat dari
daging yang tidak berlemak, namun kandungan lemak pada abon masih cukup tinggi,
karena adanya proses penggorengan dalam pengolahan daging menjadi abon. Mutu
protein pada abon terbilang lebih rendah dibanding dengan daging, disebabkan
dalam pembuatan abon terdapat proses pencokelatan (browning). Reaksi browning
menyebabkan protein bereaksi dengan karbohidrat sehingga susah dicerna oleh
enzim pencernaan. Kandungan gizi yang terkandung dalam 10 gram abon sapi murni:
|
Komposisi
|
Nilai
|
|
Energi
|
212 Kkal
|
|
Protein
|
18 gram
|
|
Lemak
|
10.6 gram
|
|
Karbohidrat
|
59.3 gram
|
|
Kalsium
|
150 mg
|
|
Fosfor
|
209 mg
|
|
Besi
|
12.3 mg
|
|
Vitamin A
|
138 RE
|
|
Vitamin B1
|
0.17 mg
|
|
Air
|
7.1 %
|
g.
Rendang
Rendang
daging adalah masakan tradisional bersantan dengan daging sapi
sebagai bahan utamanya. Masakan khas dari Sumatra Barat ini sangat banyak digemari
disemua kalangan masyarakat. Selain daging sapi, rendang juga menggunakan
kelapa, dan campuran dari berbagai bumbu khas Indonesia.
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.2 Kesimpulan
·
Daging merupakan
hasil pemotongan ternak yang telah melalui proses rigormortis.
·
Daging mempunyai
struktur daging yang terdiri dari jaringan otot, jaringan ikat, pembuluh
darah dan jaringan syaraf.
·
Pengolahan daging dilakukan dengan
tujuan untuk pengawetan daging dan penambahan citarasa.
·
Daging yang memiliki kualitas baik
yaitu yang memilikii warna cerah, tidak
pucat dan mengkilat, dan tidak ada bau asam.
·
Contoh produk dari olahan daging
adalah bakso, abon ,rendang, dendeng, steak dan kornet.
3.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Alvarado,
C. Z. And A. R. Sams. 2003. Injection marination strategies for remediation of
pale, exudative broiler breast meat. Poult. Sci. 82(8):1332-‐1336.
Alvarado,
C. Z. And S. McKee. 2007. Marination to improve functional properties and Safety
of poultry meat. J. Appl. Poult. Res.16:113-‐120.
Arka, 1994. Ilmu Pengetahuan Daging dan Teknologinya. Universitas Udayana.
Denpasar.
Hadiwiyoto,
Soewedo. 1983. Hasil – hasil Olahan Susu, Daging dan Telur.
Liberty. Yogyakarta
Smith,
D. P. And L. L. Young. 2007. Marination pressure and phosphate effects on
broiler Breast fillet yield, tenderness, and color. Poult. Sci. 86(12):2666-‐2670.
Comments
Post a Comment